Senin, 20 Februari 2012

INDONESIA DALAM KACA MATA DUNIA


INDONESIA DALAM KACAMATA DUNIA
Oleh : Nur Alvya
Negara Indonesia mempunyai letak geografis yang strategis, diapit dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Hindia dan Afrika). Terdapat pula lintasan garis khatulistiwa, tepatnya di kota Pontianak, Kalimantan Barat, sehingga tercipta negara Indonesia beriklim tropis dengan dua musim, kemarau dan penghujan. Disamping itu, letak geografis yang strategis dapat mencetak Indonesia menjadi jalur menguntungkan dalam  trasportasi perdagangan dunia. Betapa beruntungya bangsa Indonesia, tanpa harus jauh-jauh datang keluar negeri sudah dapat bertemu bule dan berinteraksi dengan mereka lewat transaksi perdagangan.
Negara Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah dibandingkan negara lainnya, maka tak heran jika rasa syukur bangsa Indonesia melebihi bangsa-bangsa lainnya. Mereka tak perlu bersusah payah mengimpor aneka buah, cukup dengan pergi ke kebun, memetik, lalu menikmatinya. Lain halnya negara-negara Arab yang mengimpor tanah tropis dan tumbuh-tumbuhan dengan biaya besar, hanya demi merasakan layaknya hidup di bumi yang permai nanhijau bukan di planet merkuriaus yang gersang, panas, dan tak ada kehidupan di sana. Namun bukan berarti Indonesia berhasil menisbatkan diri menjadi satu-satunya negara eksportir kekayaan alam terbesar di dunia. Terbukti Mesir telah menjadi negara eksportir terbesar mangga, apel, dan anggur. Berawal dari teknologi perkebunan, mereka mampu mendesain dan menciptakan lingkungan layaknya di Indonesia.
Sebuah kekayaan lain yang terselip pada jiwa tanah air Indonesia sebagai karakter masyarakatnya adalah kebudayaan. Kebudayaan masyarakat di setiap daerah berbeda, namun mereka tetap dalam satu kesatuan ya’ni berdarah dan berkebangsaan satu di tanah air Indonesia. Tak ada kebudayaan di negara lain melebihi Indonesia, tak ada kebudayaan kenduri, jagongan, ater-ater, dan semua tradisi lain sebagai kenyamanan hidup selain di Indonesia.
Jika ditinjau dari segi sejarah penduduk Indonesia merupakan keturunan homo sapiens. Namun terdapat pula homo erectus yang pernah mendiami  daerah jawa. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia bukanlah keturunan murni antara dua jenis manusia purba tersebut. Sebuah omongan dalam masyarakat, kualitas satu orang Jepang sama dengan lima orang Indonesia, tiga orang Jepang sama dengan satu orang korea, sehingga satu orang korea setara dengan lima belas orang Indonesia. Bukan berarti masyarakat Indonesia malas berpikir dan bekerja. Berdasarkan realita saat ini tak sedikit warga negara Indonesia yang rela meninggalkan tanah air hanya untuk memenuhi sesuap nasi untuk keluarganya.
Masyarakat Indonesia memiliki karakter kepemimpinan yang tinggi. Dikatakan orang Indonesia bisa memimpin tidak hanya di Indonesia bahkan di dunia. Pernyataan ini di dukung dengan banyaknya anak Hong Kong yang bisa bershalawat yang diajari para TKW Indonesia. Sungguh hebat ibu-ibu Indonesia, sebagian besar mereka tidak hanya mengurusi urusan keluarga, mencuci, menyapu, memasak, dan lain-lain. Tetapi mereka juga membantu mencari nafkah keluarga, bahkan tak sedikit diantara mereka yang keluar negeri untuk mengaih sekail rezeki demi keluarga. Di negeri Hong Kong para TKW (asal Blitar, Pasuruan, dan lain-lain) diwajibkan mendidik anak-anak Hong Kong dengan durasi waktu delapan sampai sepuluh jam. Mereka mengajarkan suatu hal yang mereka bisa, shalawat adalah salah satu hal yang menjadi andalan mereka. Sehingga tercetak sekitar 100 sampai 200 anak Hong Kong yang pandai bershalawat. Seandainya anak-anak muslim Indonesia meluangkan waktu untuk belajar shalawat lebih mendalam tentu akan menyokong Indonesia yang sebagian besar berpenduduk muslim itu mejadi negara yang benar-benar terbukti derajat keislamannya.
Masyarakat Indonesia gemar sekali dengan yang namanya dunia music, joget, tari, dan lain-lain. Bangsa Indonesia sangat menghargai hasil karya cipta bangsa lain. Mereka menyukai bahkan sangat senang mempelajari kebudayaan bangsa lain tak terkecuali seni music. Tak heran jika orang Indonesia bisa bernyanyi dengan berbagai cengkok. Grup band Wali misalnya, lagu pop, dangdut, arab pun bisa dikuasainya. Contoh lain grup band Ungu dan ST12 yang tak kalah saing, mereka bisa berdendang ala melayu, inggris, dan sebagai ciri khas bangsa Indonesia yaitu lagu dangdut. Kita tahu tak ada penyanyi luar negeri yang mampu berdendang layaknya Ayu Ting Ting yang saat ini sedang nge-hits di dunia intertainment. Mereka cenderung berlagu dengan cengkok yang lurus-lurus. Karena itu tak sedikit acara televise yang menayangkan acara ajang mencari bakat masyarakat kita.
Kemungkinan jumlah qori’ Indonesia lebih besar dibandingkan qori’ dari negara arab. Bisa dilihat dari banyaknya santri pesantren Indonesia yang mengumandangkan ayat suci Al-Qur’an, nasyid, shalawat, dan kitab-kitab kuno yang lebih dikenal dengan istilah kitab kuning dengan berbagai lagu yang bisa melahirkan gaya tarik estetika bagi yang mendengarkannya. Itulah salah satu faktor pendukung Indonesia menjadi leader di dunia. Namun yang masih menjadi tanda tanya besar untuk kita sebagai masyarakat Indonesia adalah mengapa kita masih ragu dan malu untuk mewujudkannya.
Masyarakat Indonesia terpandang memiliki unggah ungguh dalam segala tindakannya. Cinta Laura yang popular dengan logat bulenya pernah mengatakan “saya senang di Indonesia. Tiap ketemu kerabat atau sahabat selalu disapa “hello?” atau ”hai?”. Di sana saya jarang menjumpai layaknya solidaritas di Indonesia”. Kalau kita suka nonton sinetron orang-orang barat, coba perhatikan cara mereka berbicara dengan orang lain, mereka seperti tidak memerhatikan namun mereka bisa connect dengan apa yang mereka dengarkan. IQ mereka tergolong tinggi sehingga mereka mampu memahami pembicaraan lawan bicaranya walaupun terlihat tidak memerhatikan. Namun tak dapat dipungkiri, memang setiap kelebihan selalu diiringi dengan kekurangan.
Setiap makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT adalah seorang pemimpin walaupun toh hanya untuk dirinya sendiri. Masyarakat Indonesia memiliki bakat untuk menjadi seorang pemimpin baik untuk negaranya sendiri ataupun pemimpin dalam forum yang berskala internasional. Namun kapan kita akan melangkah menuju puncak dunia. Akankah kita terus berdiam diri dalam ketinggalan dan keterbelakangan. Kita mempunyai modal untuk mewujudkannya, hanya saja kita kurang mempunyai keyakinan yang kuat untuk melaksanakannya. Percaya diri adalah kunci pertama untuk menumbuhkan keyakinan. Dengan percaya diri menjalankan segala apa yang diperintahkan agama dan semua yang bernilai benar dalam tradisi rakyat, dimungkinkan seseorang akan mempunyai ketegasan dalam bertindak karena dia memiliki pedoman dalam segala aspek kehidupannya. Dan itulah sifat utama yang dalam harus ada dalam jiwa seorang pemimpin yang berwibawa. Lain dari pada itu efisiensi pengetahuan seseorang juga sangat diperhitungkan dalam diri seorang pemimpin. Pengetahuan yang luas akan memengaruhi cara pandang seseorang dalam segala tingkah lakunya. Karena itu, kita perlu melatih diri dengan terus belajar baik belajar dalam jenjang pendidikan formal ataupun belajar  dari nilai-nilai kemasyarkatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar